Tulisan Bab VII. Manusia dan Pandangan Hidup


PANDANGAN HIDUP HINDU
"Hindu didasarkan pada pengalaman-pengalaman sempurna dari para maha rsi yang mencapai realisasi Tuhan dalam dirinya".

Agama umumnya merupakan kepercayaan yang bersifat intelektual dan sudah baku. Sifat inilah yang membuat satu agama berbeda dengan agama lainnya.
Namun, Hinduisme tidak menempatkan dirinya dalam posisi yang demikian,
Hinduisme menempatkan Intelek di bawah Intuisi, menempatkan dogma di bawah pengalamam, menempatkan realisasi yang keluar dibawah realisisasi yang ke dalam.

Agama bukanlah diterimanaya sustu abstraksi yang bersifat akademis atas perayaan suatu upacara melainkan suatu jenis yang Hidup atau Pengalaman.
Dia adalah suatu wawasan ke dalam sifat dari yang nyata atau pengalaman yang nyata.

Pengalaman agama bersifat pembenaran sendiri, dia membawa mandatnya sendiri.
Apabila tidak ada tuntutan pemastian yang bersifat intelektual dari masyarakat
pada zamannya terhadap apa yang dipercayai para Rsi, maka para Rsi cukup bersikap Percaya. Keimanan Hindu didasari oleh kepercayaan didalam pengertian seperti ini.

Keimanan yang bersifat Mekanis, yang tergantung pada otoritas dan keinginan untuk menikmati hiburan yang bersifat agama tanpa harus bersusah payah menjalankan perintah agama adalah berbeda dengan keimanan beragama (hindu) yang memiliki akarnya pada pengalaman.

Keimanan bukanlah suatu pandangan atau himpunan berbagai pandangan yang dijadikan satu, walaupun apa yang dinyatakannya benar.

Keimanan adalah visi dari jiwa, kekuatan dimana hal-hal yang bersifat rohani bisa dimengerti, sebagai mana hal-hal lahiriah bisa dimengerti oleh Indria.

Kepercayaan yang buta pada dogma bukanlah keimanan yang menyelamatkan.
Inilah warisan yang tidak menguntungkan yang diikuti oleh kristiani di eropa, bahwa keimanan haruslah mengandung arti ketaatan yang bersifat mekanis terhadap Otoritas. Apabila kita menempatkan keimanan didalam pengertian kepercayaan yang semestinya,atau suatu keyakinan rohani, maka agama sebenarnya adalah Intusi.

Susastera pokok di dalam agama hindu, yaitu Veda, mencanangkan intuisi-intuisi dari jiwa yang telah sempurna. Isinya bukanlah dalil-dalil yang bersifat dogmatis melainkan catatan-catatan dari hidup.

Dia mencatat pengalaman-pengalaman rohani dari jiwa sempurna yang dengan kuat memiliki rasa realitas. Apabila bisikan Veda tidak dibarengi dengan wawasan yang bersifat rohani, dia tidak akan menuntut kepercayaan kita.

Pengalaman-pengalaman dalam Veda bisa dialami kembali bila memenuhi beberapa persyaratan. Kita bisa membedakan antara pengalaman agama yang sesungguhnya dengan yang bukan tidak saja dengan Logika tetapi juga melalui hidup. Dengan penyidikan atas berbagai gagasan agama yang berbeda, dan menghubungkannya dengan keseluruhan hidup kita, kita bisa memahami mana yang bisa dipercaya, mana yang tidak.

Sikap hindu terhadap susastera veda adalah keimanan yang ditempa oleh sikap kritis, karena bagaimanapun berharganya pembuktian-pembuktian pada zaman-zaman yang lalu tidak dapat menghilangkan hak dari masa sekarang untuk menyelidinya sendiri dan menyaring bukti/kenyatanan.

Bagaimanapun berharganya gema dari suara Tuhan didalam jiwa manusia pada zaman yang lalu, sikap kita terhadapnya haruslah ditempa oleh pengakuan kebenaran bahwa Tuhan tidak pernah berhenti menurunkan kebijakan dan kasih-Nya

Falsafah hindu mengenai agama dimulai dari dasar yang bersifat percobaan (experimental). Hanya saja dasarnya adalah sifat manusia itu sendiri. Sistem-sistem agama yang lain dimulai dengan data pengalaman yang ini atau yang itu (Pengetahuan?)

Theology Kristiani misalnya, segera dimulai dengan ketentuan bahwa Yesus sebagai seseorang yang otoritasnya mutlak dan kemampuan serta kemauannya untuk menyelamatkan keseluruhan umat manusia adalah tidak mungkin untuk tidak dipercaya.

Theology kristiani hanya akan menjadi relevant bagi mereka yang membagai atau menerima Satu macam pengalaman rohani dan hal ini memiliki kecenderungan untuk menganggap pengalaman-pengalaman rohani yang lain sebagai impian (illusiory) dan juga cederung mengangap susastera-susaster lain tidak sempurna.
Hinduisme tidak akan dikhianati kedalam kondisi seperti ini karena ketaatannya pada bukti atau kenyataan. Dialektika dari pengembangan agama melalui tradisi, logika dan Hidup membantu pelestarian Hinduisme karena memberikan ruang untuk perubahan. Agama dan filsafat, Hidup dan Pikiran, Yang praktis dan yang teoritis membentuk irama abadi dalam jiwa.

Kita bangkit dari Hidup kepada pemikiran, dan kembali dari pemikiran kepada yang hidup, didalam pengkayaan yang progresive, yang adalah pencapaian terus menerus tingkat yang nyata dan lebih tinggi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar